“ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
( TQS Ali Imran (3) : 133 – 134 )
Empat Kecerdasan Orang Yang Bertaqwa
Sobat, menurut ayat di atas kita akan bisa simpulkan setidaknya ada empat indikator yang menandai ketaqwaan seseorang :
1. Orang-orang yang sebantiasa menginfaqkan hartanya di saat lapang maupun sempit. Mereka ini disebut dengan bahasa saat ini adalah memiliki Kecerdasan Finansial. Orang-orang yang memiliki kecerdasan finansial adalah mereka yang pandai mengumpulkan pundi-pundi kekayaan melalui kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas sertai pandai pula mengelolanya, termasukkan menyisihkan sebagian untuk kaum dhu’afa dan masakin. Manejemen keuangan mereka adalah 10% untuk social,10% untuk Investasi, 10% untuk saving dan 70 % untuk biaya hidup sehari-hari.
2. Orang-orang yang bisa mengendalikan amarahnya. Mereka disebut memiliki kecerdasan emosional. Orang yang kuat, menurut Rasulullah SAW, bukanlah orang yang kuat bertarung. Orang yang kuat dalam Islam adalah orang yang mampu menahan marah. Islam tidak melarang kita marah. Yang dilarang adalah marah yang tidak terkendali dan tanpa control. Perasaan senang dan benci, perasaan bahagia dan bersedih, demikian juga marah adalah sifat alamiah manusia. Orang-orang yang memiliki kecerdasan emosi mampu mengendalikan perasaannya sehingga mereka tahu kapan dan di mana bisa mengungkapkan perasaan senang atau ketidaksenangannya.
3. Mudah memaafkan, atau memiliki kecerdasan social. Tanda orang yang memiliki kecedasan social itu bisa dilihat dari pergaulannya sehari-hari, apakah mereka diterima masyarakat lingkungannya atau dijauhi? Orang yang memiliki kecerdasan social mudah bergaul, luwes, dan di terima. Sikapnya tidak arogan, atau sombong. Tidak egois dan mau berbagi. Mereka hidup di tengah masyarakat, berbaur, menyatu, dan tidak menyendiri. Rasulullah SAW bersabda, “ Mukmin yang bergaul dan sabar terhadap gangguan orang lebih besar pahalanya daripada yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka,” ( HR. Ahmad dan Tirmidzi). Dalam pergaulan social, ada saja diantara saudara kita yang perkataannya menyinggung perasaan, sikapnya tidak menyenangkan, dan perbuatannya merugikan. Terhadap mereka, Islam mengajarkan agar kita lebih bersabar dan pandai-pandai memaafkan.
4. Apabila berbuat kerusakan, mereka segera mengingat Allah, lalu meminta ampun atas kesalahan dan dosanya. Mereka memiliki kecerdasan spiritual. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual bukanlah orang yang tidak pernah berbuat kesalahan. Orang yang bertqawa bukanlah orang yang sama sekali bebas dari perbuatan dosa. Orang yang bertaqwa adalah mereka yang apabila melakukan kesalahan, perbuatan yang kurang baik, dan melanggar ketentuan segera mengingat Allah lalu meminta ampun dan bertobat. Mereka segera kembali ke jalan yang benar dan lurus ketika terperosok. Mereka tidak terlalu lama berada dalam kesesatan.
Orang yang memiliki kecerdasan spiritual senantiasa mengingat Allah, kapan dan di manapun juga. Ketika hendak memulai sesuatu,mereka mengingat Allah lalu mengucapkan bismillah. Setiap langkahnya diperhitungkan, apakah sesuai dengan syariat Islam atau tidak? Apakah perbuatan dan tindakannya menguntungkan bagi dirinya dan member manfaat kepada orang lain? Apakah perilakunya mencerminkan kasih sayang?
Ketika pekerjaannya telah usai, tak lupa mereka bersyukur sambil mengucapkan Alhamdulillah. Mereka tidak ingin dipuji, sebab mereka sadar bahwa segala puji adalah milik Allah. Mereka syukuri semua karunia Allah, lalu bertawakkal dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Semoga kita menjadi hamba-hambanya tetap istiqomah berada di jalan-nya. Amin.
(www.faqihsyarif.com atau www.formulabisnis.com/?id=faqihsyarif )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar