KIat Dahsyat menjadi Da'i Hebat

KIat Dahsyat menjadi Da'i Hebat

Beli Rumah Tanpa Modal Malah dapat Penghasilan

Senin, 13 Oktober 2008

Cinta Perlu bukti

Bukti cinta kepada Allah
Oleh. N. Faqih Syarif H
 
Di antara sekian banyak peperangan yang terjadi di awal sejarah Islam,
Perang Uhudlah yang paling banyak menyimpan kenangan dan pelajaran. Pada
saat itu ummat Islam mengalami kekalahan yang sangat fatal, padahal pada
perang itu tentara Islam sempat unggul dan hampir saja mereka dapat
menghalau musuh sekaligus mengalahkannya. Akan tetapi karena kurang
disiplin, akhirnya banyak di antara pasukan Islam yang gugur sebagai
syuhada'. Di antaranya adalah Hamzah, paman Rasulullah saw. Beliau
sendiri mengalami luka yang cukup parah.
 
Di balik hiruk pikuk peperangan, ada kisah menarik yang patut
diperhatikan. Beberapa saat menjelang perang dimulai, Abdullah bin Jahsy
mengajak sahabatnya, Sa'ad bin Abi Waqash untuk berdo'a. Katanya,
"Kenapa engkau tidak berdo'a, memohon kepada Allah?" Mereka berdua
akhirnya mencari tempat yang agak jauh dari pasukan yang lain. Di tempat
yang agak sunyi, mereka berdua memanjatkan do'a.
Yang pertama berdo'a adalah Sa'ad bin Abi Waqqash. Ia berdo'a, "
Tuhanku, jika nanti aku berjumpa dengan musuhku, berilah aku musuh yang
tangguh dan perkasa. Aku berusaha membunuhnya dan dia berusaha pula
membunuhku. Engkau berikan kemenangan kepadaku sehingga aku berhasil
membunuhnya dan mengambil miliknya".
 
Setelah mengaminkan do'a sahabatnya, Abdullah mulai berdo'a: Ya Allah,
berilah aku musuh yang gagah perkasa. Aku berusaha membunuhnya, ia pun
berusaha membunuhku. Kemudian ia memotong hidungku dan telingaku. Kelak
ketika aku berjumpa dengan-Mu, Engkau tentu akan bertanya, siapa yang
memotong hidung dan telingamu? Aku akan menjawab: Keduanya terpotong
ketika aku berjuang di jalan-Mu dan di jalan Rasul-Mu. Ketika itu Engkau
berkata, "Kamu benar."
Setelah berselang beberapa tahun, Sa'ad bin Abi Waqash bercerita kepada
anaknya, "Wahai anakku, do'a Abdullah lebih baik dari do'aku. Petang itu
aku melihat hidung dan telinganya tergantung pada seutas tali".
 
Boleh jadi kita tidak sepakat dengan pendapat Sa'ad, demikian pula
dengan do'a Abdullah bin Jahsy, karena kita mempunyai ukuran yang
berbeda dalam menilai sebuah keberhasilan. Bagi kita, ukuran
keberhasilan dalam perang itu adalah jika kita bisa membunuh
sebanyak-banyaknya musuh dan memenangi peperangan.
 
Sedangkan bagi kedua orang tersebut, perang tidak lebih dari pembuktian
sebuah kecintaan. Perang adalah drama percintaan. Di sini, sebuah
keberhasilan diukur dari seberapa besar pengorbanan seseorang kepada
kekasihnya. Apa yang dibawa ketika bertemu dengan sang kekasih.
 
Do'a yang dipanjatkan oleh Abdullah adalah ungkapan rasa cinta. Ia ingin
ketika menghadap kekasihnya membawa bukti kecintaannya. Ia berharap
kelak nanti sang kekasih bertanya, "Di mana hidung dan telingamu?" Saat
itu dia bisa menjawab, "Keduanya telah kupersembahkan saat membela
(agama)-Mu." Respon balik yang sangat dinanti oleh semua orang yang
kasmaran adalah, "Engkau memang benar, kekasihku".
 
Kecintaan para sahabat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala tak diragukan
lagi. Mereka telah mengorbankan segalanya untuk agama-Nya. Tak
terkecuali, miliknya yang paling berharga, yaitu jiwa sekalipun mereka
korbankan di medan jihad di jalan Allah. Itulah sebabnya, setiap ada
seruan perang, mereka menyambutnya dengan gegap gempita. Mereka tak
sedikit pun merasa takut dan gentar, sekalipun jumlah pasukan musuh
berikut peralatannya jauh lebih canggih. Bagi mereka, syahid merupakan
kehormatan yang terus diupayakan. Dengan cara syahid mereka yakin akan
segera bertemu dengan kekasih Yang Maha Kasih, Allah Swt.
 
Sebagai manusia biasa, mereka juga mencintai istri, anak, dan orang
tuanya. Mereka juga tetap menyenangi dunia, tempat tinggal, pekerjaan,
jabatan, dan status sosial yang disandangnya. Mereka juga mencintai
kehidupan, kesehatan, juga cinta pada diri sendiri. Akan tetapi
kecintaan mereka kepada Allah melebihi segalanya. Segala cinta yang lain
menjadi sirna jika dihadapkan dengan kecintaannya kepada Allah.
 
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan
selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.
Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika
seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka
melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah
semuanya dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal).
(Surat Al-Baqarah ayat 165)
 
Mush'ab bin Umair adalah seorang pemuda yang baru saja mendapat hidayah
iman. Dengan cara sembunyi-sembunyi ia berusaha menjalankan ibadah
sebagai upaya pengenalannya kepada Allah. Suatu hari orangtuanya
mengetahui tentang keimanannya, mereka memaksa agar anaknya kembali
menyembah tuhan sembahan sebelumnya. Mush'ab muda menolaknya, sehingga
ia rela disekap dalam kamar tanpa diberi makan, minum, dan kesempatan
untuk berbicara. Dengan hukuman itu, orang tuanya berharap agar anaknya
kembali ke ajaran nenek moyangnya. Akan tetapi Mush'ab sudah terlanjur
cinta kepada Allah. Ia tetap bergeming walau menghadapi boikot
orangtuanya.
 
Merasa gagal dengan hukuman tersebut, sang ibu balik unjuk rasa. Di
hadapan anaknya ia bertekad untuk tidak makan sampai anaknya
meninggalkan agama barunya, sehingga sang ibu menjadi lemas dan
berkali-kali pingsan. Mush'ab trenyuh (iba) melihat kondisi kesehatan
ibunya. Dengan perasaan sedih ia tunggui ibunya, sampai pada akhirnya ia
berkata, "Wahai Ibunda, sekiranya Ibunda mempunyai sepuluh nyawa dan
satu persatu nyawa ibunda diambil oleh-Nya, maka aku akan tetap dalam
keimananku."
 
Ternyata pernyataan itu justru mengakhiri mogok makan ibunya. Akhirnya
sang ibu sadar, bujuk rayunya akan berakhir dengan sia-sia, sang anak
akan tetap bertahan pada keimanan barunya.
 
Mush'ab mencintai ibunya sebagiamana layaknya seorang anak kepada
orangtuanya. Akan tetapi jika dihadapkan kepada pilihan, ibu atau Allah,
maka ia lebih memilih Allah. Cinta kepada selain Allah harus dengan
reserve (syarat), sedangkan kecintaannya kepada Allah mutlak tak
bersyarat. Patuh kepada orangtua harus disertai syarat, yaitu selama
tidak berma'shiyat kepada Allah. Dari mana pun datangnya perintah yang
melanggar ketentuan Allah, harus diabaikan, walaupun yang memberi
perintah itu atasan, komandan, panglima, atau bahkan oleh kepala negara.
 
Ketaatan dan kepatuhan kepada selain Allah harus dengan syarat. Adapun
taat kepada Allah berlaku sebaliknya. Dalam keadaan bagaimana pun juga,
bahkan sekalipun bertentangan dengan kemauan dan kehendak semua manusia,
ketentuan Allah itulah yang harus dilaksanakan. Inilah sikap sebagaimana
Allah maksudkan dalam penggalan ayat walladziina aamanuu asyaddu hubban
lillaaah (orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah).
 
Adalah wajar jika kecintaan kepada haruas Allah dinomorsatukan, sebab
Dialah yang menciptakan, menghidupkan, dan memelihara kehidupan manusia
dengan memberinya berbagai fasilitas hidup, mulai dari bumi tempat
berpijak, udara segar, sampai dengan tumbuh-tumbuhan dan aneka binatang.
Semua disiapkan untuk manusia. Yang lebih penting lagi, Dia telah
menurunkan Al-Quran sebagai pedoman dan petunjuk hidup agar kita tidak
tersesat di tengah jalan.
 
Cinta kepada Rasulullah berada setingkat di bawahnya, karena melalui
Rasulullah Saw manusia dapat mengenali penciptanya, mengenali Islam dan
seluruh ajarannya. Mereka menjadi tahu mana yang benar dan salah, baik
dan buruk, mana yang boleh dan yang terlarang, yang halal dan yang
haram. Melalui perjuangan beratnya kita mendapat petunjuk jalan menuju
Allah swt.
 
Pada suatu hari, seorang sahabat dari Anshar datang menghadap Rasululah
saw, sedangkan ia dalam keadaan yang sangat sedih. Rasulullah menanyakan
keadaannya, "Wahai sahabatku, mengapa kamu kelihatan sangat sedih
sekali?" Lelaki itu menjawab, "Wahai Rasulullah, ada sesuatu yang
mengganjal pikiranku."
 
Rasulullah bertanya lagi "Apa itu?" Jawab sahabat itu, "Pada saat ini
setiap pagi aku dapat menghadap kepadamu, bercanda bersamamu, melihat
wajahmu, dan duduk bersamamu. Tetapi kelak di akhirat nanti aku khawatir
tidak lagi bisa bersamamu. Engkau berada di tempat yang lebih mulia dan
lebih tinggi bersama para nabi, sedangkan kami berada di tempat yang
lebih rendah". Rasulullah terdiam, tidak memberi jawaban sedikitpun juga
sampai kemudian datanglah malaikat Jibril kepada Rasululah sambil
membacakan ayat di bawah ini:
 
Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan
bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,
yaitu para nabi, shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan
orang-orang yang shaleh. Dan mereka itulah teman sebaik-baiknya. Yang
demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui. (QS.An-Nisaa: 69 dan 70)
 
Semoga Allah menumbuhkan dan menyuburkan rasa cinta kepada-Nya dalam
jiwa kita, cinta kepada orang-orang yang mencintai-Nya, dan cinta kepada
segala amal yang menjadikan kita cinta kepada-Nya dan Dia pun cinta
kepada kita.
(www.faqihsyarif.com atau www.formulabisnis.com/?id=faqihsyarif )

Tidak ada komentar: