Bersyukurlah dan berkaryalah !Kita semua diberi karunia potensi diri, atau bakat, atau talenta alami. Tentu itu semua harus kita syukuri dan wujud syukur kita kepada Allah SWT tidak hanya berucap Alhamdulillah tetapi berupa amal sholeh atau karya apa saja yang bermanfaat bagi sesama. Rasulullah Saw bersabda, ..”Yang terbaik diantara manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lainnya.” Bacalah sekali lagi sabda Nabi Muhammad saw. Di atas, “..Yang terbaik diantara manusia …”. Luar biasa, ini tidak main-main siapa yang terbaik di antara manusia? “…….adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lainnya.”
Sobat, semangat yang islami adalah “ bagaimana saya bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi sesama.” Jadi, semangat yang islami adalah semangat memberi, bukan semangat meminta, bukan semangat mengumpulkan, apalagi semangat mengeksploitasi orang lain.
Rasulullah Saw bersabda, “ Seorang muslim yang menanam tanaman, kemudian ia makan dari hasil tanaman itu termasuk sedekah baginya, juga bila hasil tanaman itu dicuri atau diambil orang, maka ia termasuk sedekah baginya, ( HR. Muslim ). Dalam riwayat lain, disebutkan,”seorang muslim yang menanam tanaman atau menabur benih, kemudian hasil tanamannya itu dimakan oleh manusia, binatang maupun sesuatu yang lain, maka semua itu merupakan sedekah baginya sampai hari kiamat.”
Sobat, hakikat syukur menurut Prof. Dr Quraish Shihab adalah “ menampakkan nikmat sesuai kehendak pemberi, juga menyebut-nyebut dengan baik. Hal ini berarti setiap nikmat yang dianugerahkan Allah SWT, menuntut perenungan untuk apa ia dianugerahkan-Nya, lalu menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan tujuan penganugerahannya.” Untuk mensyukuri nikmat bakat paling tidak ada dua tugas kita yakni :
1. Merenungi dan mengenali apa sebenarnya potensi diri atau bakat kita.
2. Setelah mengenali bakat, lalu memfokuskan diri pada bakat itu dengan cara terus-menerus melatih dan memanfaatkan bakat itu sebagai realisasi tugas khalifatullah fil ardhi.
Apabila kita dengan sepenuhnya memanfaatkan potensi diri kita, mengenalnya, melatihnya, dan memanfaatkannya untuk orang lain, maka kita akan melihat bahwa potensi diri tersebut akan bermanfaat bagi orang lain dan otomatis potensi diri kita juga akan semakin berkembang.
“…. Ya, Tuhanku, Tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal sholeh yang Engkau ridhoi, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberikan kebaikan ) kepada anak cucuku. Sesungguhnya, aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” ( TQS Al-Ahqaf(46) : 15).
Sobat, dalam sebuah riwayat dikisahkan, ada seorang laki-laki bertanya kepada Abdullah bin al-Mubarak. Dia berkata, “Wahai Abu Abdurrahman, aku menderita luka yang mengeluarkan darah di lututku sejak tujuh tahun yang lalu. Aku telah berkonsultasi ke banyak dokter, dan aku pun telah melakukan terapi dengan berbagai macam cara, tetapi masih tidak kunjung sembuh juga.” Ibnul Mubarak menjawab, “ Pergi dan carilah satu tempat di mana orang-orang membutuhkan air. Buatlah sumur di sana. Aku berharap dengan munculnya sumber mata air di sana, semoga Allah memberi kesembuhan kepadamu dan tersumbatlah lukamu yang mengeluarkan darah.” Orang itu pun melaksanakan nasihatnya sehingga dia mengalami kesembuhan. Dengan berkarya, atas izin Allah orang itu sembuh dari luka.
Lalu, apa saja karya dan sumbangsih kita yang telah kita lakukan dan persembahkan bagi agama Allah, bagi sesama, yang merupakan bukti nyata kita sebagai khalifatullah di muka bumi ini? Apa saja prestasi yang pernah kita raih selama ini? Coba ingat karya atau prestasi apa yang pernah kita buat selama ini? Mulai dari Taman kanak-kanak sampai saat ini. Apa saja karya itu, misalnya barang kerajinan, puisi,buku,desain pakaian, mainan anak-anak, hasil otak-atik barang elektronik, suatu bentuk usaha, juara untuk olahraga tertentu, suatu gagasan, suatu konsep, suatu aktivitas, dan sebagainya. Sebutkanlah! Sebutkanlah, sekecil apa pun karya kita, seremeh apa pun karya itu.
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya.” (TQS Az-Zalzalah (99) :7).
Berapa orang kira-kira yang telah memanfaatkan atau tel;ah menikmati karya-karya kita atau yang telah merasakan manfaat dari berbagai prestasi kita? Berap gelintir orang atau berapa puluh orang atau berapa ribu orang atau berapa ratus ribu orang atau berapa juta orang kira-kira yang telah menanfaatkan karya-karya kita?
Sobat, mengasah potensi diri dengan berkarya tidak mengenal usia. Jangan kita beralasan masih terlalu mudah atau sudah terlalu tua. Ghefira Nur Fatimah 7 tahun putrid Aa’ Gym dinobatkan sebagai penulis buku termuda dalam sejarah penerbitan Indonesia oleh MURI. Husei Thabathaba’iy berumur 7 Tahun peraih gelar Doktor Honoris Causa termuda di dunia.
Latihlah bakat atau potensi diri dengan membiasakan diri mencipta karya-karya. Ini artinya menjadikan potensi diri sebagai sumber ide karya. Lalu, targetkan minimal tercipta sebuah karya setiap tiga bulan. Mudah-mudahan dengan cara seperti ini, kita bisa terfokus pada potensi diri atau bakat kita.
Sobat, sebagai penutup tulisan ini kita harus ingat bahwa karya atau prestasi yang monumental terlahir dari bakat yang dibarengi dengan keikhlasan, kesabaran,kerendahan hati,kegigihan,ketekunan, keuletan, dan kreativitas yang luar biasa. Dan yang amat penting dari semua itu adalah bahwa kita berkarya, kita niatkan karena Allah SWt, bukan agar kita terkenal ataupun karena ingin pujian dari sesama. Kebiasaan kita berkarya dari bakat setiap hari dibarengi dengan do’a kepada Allah SWT , Insya Allah akan melahirkan karya-karya yang relaif monumental , yang bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam waktu yang rlatif lama. Bahkan, karya itu lebih lama usianya dari usia kita. Karya itu menjadi amal jariyah. Mudah-mudahan dalam berkarya, selalu kita niatkan sebagai mal sholeh kita.
(www.faqihsyarif.com atau www.motivasiepos.blogspot.com kunjungi juga www.formulabisnis.com/?id=faqihsyarif )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar